Senin, 02 April 2018

TEKNIK PERAWATAN MESIN

TUGAS SOFTSKILL
TEKNIK PERAWATAN MESIN



Disusun Oleh :
Nama          : Dani Arianto
NPM          :  21415573
Kelas          :  3IC08






JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2018



PERAN PERAWATAN DAN PERBAIKAN PADA MESIN DALAM SUATU INDUSTRI
1.1.  Pengertian Perawatan
Pengertian Perawatan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja dansistematis terhadap peralatan hingga mencapai hasil/kondisi yang dapat diterima dan diinginkan.
Dari pengertian di atas jelas bahwa kegiatan perawatan itu adalah kegiatan yang terprogram mengikuti cara tertentu untuk mendapatkan hasil/kondisi yang disepakati. Perawatan hendaknya merupakan usaha/kegiatan yang dilakukan secara rutin/terus menerus agar peralatan atau sistem selalu dalam keadaan siap pakai.
1.2.  Peran Perawatan dan Perbaikan dalam Sistem Kesiapan Fasilitas
A. Peran perawatan dalam suatu perusahaan industri :
1. Agar mesin-mesin industri, bangunan, dan peralatan lainnya selalu dalamkeadaan siap pakai secara optimal.
2. Untuk menjamin kelangsungan produksi sehingga dapat membayar kembalimodal yang telah ditanamkan dan akhirnya akan mendapatkan keuntungan yangbesar.
B. Siapa yang berkepentingan dengan bagian perawatan? :
1. Penanam modal (investor).
2. Manager.
3. Karyawan perusahaan yang bersangkutan.
C. Bagi investor perawatan penting karena:
1. Dapat melindungi modal yang ditanam dalam perusahaan baik yang berupabangunan gedung maupun peralatan produksi.
2. Dapat menjamin penggunaan sarana perusahaan secara optimal dan berumurpanjang.
3. Dapat menjamin kembalinya modal dan keuntungan.
4. Dapat menjamin kelangsungan hidup perusahaan.
5. Dapat mengetahui dan mengendalikan biaya perawatan dan mengembangkandata-data operasi yang berguna untuk membantu menentukan anggaran biayadimasa yang akan datang.
D. Bagi para manager perawatan penting dengan harapan dapat membantu :
1. Melindungi bangunan dan instalasi pabrik terhadap kerusakan.
2. Meningkatkan daya guna serta mengurangi waktu menganggurnya peralatan.
3. Mengendalikan dan mengarahkan tenaga karyawan.
4. Meningkatkan efisiensi bagian perawatan secara ekonomis.
5. Memelihara instalasi secara aman.
6. Pencatatan perbelanjaan dan biaya pekerjaan.
7. Mencegah pemborosan perkakas suku cadang dan material.
8. Memperbaiki komunikasi teknik.
9. Menyediakan data biaya untuk anggaran mendatang.
10. Mengukur hasil kerja pabrik sebagai pedoman untuk menempuh suatu kebijakanyang akan datang.
1.3. Klasifikasi dan Jenis Perawatan
A. Pemeliharaan Terencana (Scheduled Maintenance)
      Pemeliharaan Terencana adalah pemeliharaan yang diorganisasi dan dilakukan dengan pemikiran kemasa depan, pengendalian dan pencatatan sesuai rencana yng telah ditentukan
Pemeliharaan Terencana terdiri dari Pemeliharaan Pencegahan (Preventive Maintenance) , Pemeliharaan Korektif  (Corrective Maintenance) dan Predictive Maintenance.
§  Preventive Maintenance
Preventive Maintenance (PM) adalah deteksi dan tindakan secara cepat pada ketidaknormalan peralatan sebelum mengakibatkan kerusakan atau kerugian. Dua aktivitas dasar pada PM adalah:
1. Pengecekan berkala pada peralatan.
2. Perbaikan secara terencana pada kerusakan
      Preventive Maintenance adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk menjaga setiap alat/komponen berjalan sesuai dengan kondisi yang diharapkan, melalui pemeriksaan, deteksi dan pencegahan kerusakan total yang tiba-tiba (breakdown). Lalu mengapa semua peralatan (mesin) tidak dijalankan atau dioperasikan saja sampai rusak ? kemudian baru diperbaiki. Jawabnya adalah bahwa kerusakan itu dapat terjadi kapan saja (unpredictable) bisa saja terjadi pada waktu yang sangat tidak menguntungkan, mungkin juga mengakibatkan timbulnya korban pada pekerjanya, membuat peralatan menjadi cepat aus, mengurangi produksi, dan yang jelas menjadikan biaya perbaikan relatif lebih mahal dibandingkan biaya pemeliharaan.
Tetapi di lain pihak ada perusahaan-perusahaan yang terlalu khawatir dengan kegagalan-kegagalan, sehingga melakukan terlalu banyak kegiatan pemeliharaan. Hal ini menimbulkan masalah-masalah lain dan terjerumus ke dalam pemeliharaan yang berbiaya tinggi.
Meskipun demikian, menghilangkan kegiatan pemeliharaan pencegahan bukanlah jawaban yang tepat. Sebuah pendekatan Total System diperlukan untuk menentukan kombinasi dari faktor-faktor tersebut.
Pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance), yaitu suatu kegiatan inspeksi secara periodic untuk mendeteksi adanya tanda-tanda gangguan yang akan mengakibatkan breakdown atau stop produksi, penurunan kondisi mesin atau alat-alat kelengkapannya. Pemeliharaan pencegahan ini dapat dijadikan sebagai system deteksi terhadap mesin atau alat sebelumnya terjadi gangguan yang akan mengakibatkan cacatnya hasil produksi serta kerugian lainnya yang ditimbulkan. Untuk preventive maintenance sendiri terbagi menjadi beberapa jenis kegiatan diantaranya sebagai berikut.
  1. Inspeksi, yaitu kegiatan pemeliharaan secara periodic dengan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi mesin dan komponen terkaitnya termasuk didalamnya kegiatan pelumasan dan penyetelan.
  2. Lihat, Dengar, dab Rasakan, yaitu suatu kegiatan pemeliharaan dengan melakukan pemeriksaan kondisi mesin dan komponen terkaitnya dengan cara penglihatan,perasaan / feeling dan pendengaran.
  3. Pemeliharaan jalan, yaitu kegiatan pemeliharaan yang bisa dilaksanakan tanpa menghentikan proses produksi atau kerja dari mesin dan peralatannya.
  4. Penggantian komponen minor, yaitu kegiatan pemeliharaan yang berupa penggantian sebagian kecil komponen mesin dan peralatannya.
Pemeliharaan berhenti, yaitu kegiatan pemeliharaan yang hanya bisa dilaksanakan pada saat peralatan tidak bekerja atau stop mesin
§  Corrective Maintenance, Pemeliharaan Korektive  adalah pemeliharaan yang dilakukan untuk memperbaiki suatu bagian mesin (termasuk penyetelandan reparasi) yang telah terhenti untuk memenuhi suatu kondisi yang bisa diterima. Kegiatan corrective maintenance sendiri terbagi menjadi beberapa kegiatan diantaranya:
§  Reparasi minor, yaitu suatu kegiatan pemeliharaan berupa perbaikan-perbaikan kecil pada suatu mesin atau peralatan terkaitnya (yang tidak ditemukan ketika pemeriksaan), terutama untuk rencana jangka pendek yang mungkin timbul diantara pemeriksaan,
§  Overhoul, yaitu kegiatan pemeliharaan berupa penggantian komponen mesin secara serentak atau keseluruhan (juga overhaul terencana misalnya overhaul tahunan atau dua tahuan, atau suatu perluasan kapasitas produksi)
§  Predictive Maintenance, Tipe pemeliharan jenis ini lebih maju dibanding dengan dua tipe sebelumnya. Ditandai dengan menggunakan teknik-teknik mutakhir (advance scientific techniques) termasuk statistik probabilitas untuk memaksimalkan waktu operasi dan menghilangkan pekerjaan-pekerjaan yang tidak perlu. Predictive Maintenance dipakai hanya pada sistem-sistem yang akan menimbulkan masalah-masalah serius jika terjadi kerusakan pada mesin atau pada proses-proses yang berbahaya.

B.     Pemeliharaan Tidak Terencana (Unscheduled Maintenance)
      Hanya ada satu jenis pemeliharaan tak terencana yaitu pemeliharaan darurat atau breakdown/emergency. Dikenal sebagai jenis pemeliharaan yang paling tua. Aktivitas pemeliharaan jenis ini adalah mudah untuk dipahami semua orang. Jenis pemeliharaan ini mengijinkan peralatan-peralatan untuk beroperasi hingga rusak total (fail). Kegiatan ini tidak bisa ditentukan / direncanakan sebelumnya, maka aktivitas ini juga dikenal dengan sebutan unschedule maintenance. Ciri-ciri jenis pemeliharaan ini adalah alat-alat mesin dioperasikan sampai rusak dan ketika rusak barulah tenaga kerja dikerahkan untuk memperbaiki dengan cara ‘penggantian’.
Keuntungan pemeliharaan jenis ini hanya satu yaitu mudah dilaksanakan dan tidak perlu melakukan perencanaan pemeliharaan.
Kelemahannya :
a.       Karena tidak bisa diketahui kapan akan terjadi breakdown, maka jika waktu breakdown adalah pada saat-saat periode produksi maksimal, maka akan mengakibatkan tidak tercapainya target produksi pada periode ini.
b.      Jika suku cadang untuk perbaikan ternyata sukar untuk dipenuhi berarti  dibutuhkan waktu tambahan untuk membeli atau memperoleh dengan cara lain suku cadang tersebut.
c.       Karena kegiatan ini sifatnya mendadak, dalam tugasnya bagian pemeliharaan bekerja dibawah tekanan bagian produksi yang akan berakibat :
§  rendahnya efisiensi dan efektifias pekerja
§  tidak optimalnya mutu hasil pekerjaan perbaikan / pemeliharaan
§  biaya relatif lebih besar.

1.3.  Jenis Pelumasan dan Teknik Pelumasan
Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan di antara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10% zat tambahan.
Pada dasarnya yang menjadi tugas pokok pelumas adalah mencegah atau mengurangi keausan sebagai akibat dari kontak langsung antara permukaan logam yang satu dengan permukaan logam lain terus menerus bergerak. Selain keausan dapat dikurangi, permukaan logam yang terlumasi akan mengurangi besar tenaga yang diperlukan akibat terserap gesekan, dan panas yang ditimbulkan oleh gesekan akan berkurang. Selain mempunyai tugas pokok, pelumas juga berfungsi sebagai penghantar panas.
A.       Jenis Pelumasan
Sistem pelumasan campur
Pada sistem pelumasan campur ini, banyak digunakan pada mesin 2 tak pada sepeda motor. Pada sistem pelumasan campur ini pelumas atau oli samping dicampur dengan bahan bakar di dalam tangki.
Sifat-sifat pada sistem pelumasan campur ini adalah :
1.             Oli yang digunakan selalu baru dikarenakan oli yang tercampur dengan bahan bakar nantinya juga akan ikut terbakar dan habis.
2.            Timbul polusi yang dari knalpot atau gas buangnya berupa asap putih
3.             Pemakaian oli menjadi lebih boros
4.            Kandungan oli atau pelumas pada campuran bahan bakar dan oli yaitu 2 - 4 % (lebih tepatnya lihat spesifikasi pabrik)
5.             Sistem pelumasan ini digunakan pada mesin 2 tak

Sistem pelumasan autolube
Pada sistem pelumasan autolube ini juga digunakan pada mesin 2 tak, prinsipnya sama dengan sistem pelumasan campur, yaitu mencampur oli samping dengan bahan bakar, tetapi bedanya pencampuran ini tidak dilakukan langsung pada tangki bahan bakar melainkan oli samping dan bahan bakar nantinya akan dicampur pada ruang engkol. Pada sistem pelumasan autolube ini, oli ditempatkan pada wadah tersendiri yang nantinya oli akan masuk ruang engkol karena dipompa oleh pompa oli.
Sifat-sifat pada sistem pelumasan autolube sama dengan sistem pelumasan campur yaitu :
1.           Oli yang digunakan selalu baru dikarenakan oli yang tercampur dengan bahan bakar nantinya juga akan ikut terbakar dan habis.
2.            Timbul polusi yang dari knalpot atau gas buangnya berupa asap putih
3.            Pemakaian oli menjadi lebih boros
4.           Kandungan oli atau pelumas pada campuran bahan bakar dan oli yaitu 2 - 4 % (lebih tepatnya lihat spesifikasi pabrik)
5.             Sistem pelumasan ini digunakan pada mesin 2 tak
6.             Memerlukan wadah untuk menampung oli samping

Sistem pelumasan percik
Pada sistem pelumasan percik ini, memanfaatkan gerakan putar dari poros engkol untuk memercikkan oli kebagian-bagian mesin yang memerlukan pelumasan. Pada sistem pelumasan percik ini, pada bagian poros engkol dibagian bawahnya menyerupai sendok, sehingga ketika poros engkol berputar, oli yang berada dikarter akan terbawa dan dipercikkan oleh bagian poros engkol
Sifat-sifat pada sistem pelumasan percik ini adalah :
1.       Penggantian oli atau pelumas ini dilakukan pada jarak waktu atau jerak tempuh kilometer tertentu.
2.        Pelumasan kurang baik karena hanya bagian-bagian tertentu saja yang dapat dijangkau oleh percikkan olinya.

Sistem pelumasan tekan
Pada sistem pelumasan tekan ini, pelumas atau oli akan disirkulasikan ke seluruh bagian mesin oleh pompa oli. Pompa oli pada sistem pelumasan ini berfungsi untuk memompa atau menekan oli, agar oli dapar bersirkulasi ke seluruh bagian mesin sehingga semua bagian mesin mendapatkan pelumasan
Sifat-sifat pada sistem pelumasan tekan ini adalah :
1.                  Pelumasannya merata dan teratur
2.                  Sistem pelumasan ini dapat digunakan pada mesin 4 tak maupun 2 tak
3.          Penggantian oli atau pelumas ini dilakukan pada jarak waktu atau jerak tempuh kilometer tertentu

B.           Teknik Pelumasan
Teknik pelumasan adalah suatu cara untuk memperkecil gesekan dan keausan dengan menempatkan suatu lapisan tipis (film) fluida diantara permukan-permukaan yang bergesekan. Sementara pelumas dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang berada atau disisipkan diantara dua permukaan yang bergerak secara relatife agar dapat mengurangi gesekan antar permukaan tersebut. Teknik pelumasan ini sangat dibutuhkan dalam suatu industri terutama dalam dunia permesinan yang sangat banyak terjadinya gesekan antara komponen-komponen mesin dan banyaknya komponen mesin yang harus dijaga kondisinya agar umur dari suatu komponen mesin tersebut lebih panjang dalam pemakaiannya. Misalnya dalam gerakan berputar pada bantalan luncur, poros atau jurnal yang beroksilasi pada bantalan, gabungan dari gerakan menggelinding atau luncuran pada gigi-gigi roda gigi yang berpasangan, gerakan luncuran pada piston terhadap silindernya dan yang lain yang kesemuanya itu memerlukan pelumasan.

Sumber :

Minggu, 07 Januari 2018

Tugas Rangkuman Sofskill Metodologi Penelitian

Tugas Softskill
Rangkuman Jurnal tentang Sand Casting

Proses logam dapat diartikan proses dari logam yang dicairkan, dituangkan ke dalam cetakan, kemudian dibiarkan mendingin dan membeku. Oleh karena itu sejarah pengecoran dimulai ketika orang mengetahui bagaimana mencairkan logam dan bagaimana membuat cetakan. Logam pertama yang dicor adalah emas dan perak.
Pengaruh Metode Pengecoran Terhadap Sifat-Sifat Mekanis pada baling-baling
            Proses pembuatan baling-baling dapat dilakukan dengan pengecoran atau penuangan sand casting. Bahan yang digunakan untuk membuat baling-baling biasanya ada 2 yaitu aluminium atau kuningan, yang masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan. Untuk mengetahui pengaruh proses pengecoran terhadap sifat-sifat mekanis yang dihasilkannya, terutama kekerasan dan laju perambatan retak, maka penelitian ini dilakukan. Sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah baling-baling bediameter 20” (51cm) ssebanyak 2 buah yang terbuat dari aluminium, dan 2buah lagi dari kuningan. Bahan aluminium dan kuningan yang digunakan adalah bahan limbah rumah tangga. Dari tiap-tiap baling-baling kemudian dipotong-potong sehingga didapat 3 buah specimen untuk uji Tarik statis dan 3 buah specimen uji perambatan retak, serta beberapa specimen untuk uji kekerasan, sehingga jumlah specimen total sebanyak 12 buah untuk uji Tarik statis dan 12 buah untuk ji perambatan retak. Dari hasil analisa yang dilakukan ternyata proses/metode pengecoran sangat mempengaruhi terhadap kekerasan baling-baling tersebut.
Variabel Penelitian
·         Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah komposisi bahan dan waktu peleburan logam serta waktu pendinginan dalam cetakan.
·         Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variable yang merupakan hasil. Dimana nilainya dipengaruhi oleh adanya perubahan variable bebas.
·         Variabel control
Variabel control adalah variable yang dikendalikan sehingga pengaruh variable bebas terhadap variabel terikat. Variabel control yang dimaksud disini adalah semua faktor yang dapat mempengaruhi hasil dari proses pengecoran tersebut adalah:
-          Jenis pasir cetak
-          Kadar air pasir cetak
-          Jenis cetakan
-          Model (pattern)
-          Temperatur penuangan
-          Letak lubang tuang
-          Keterampilan mengecor benda kerja
-          Alat pengukur kekasaran
-          Alat pengukur kekerasan

Teknik Pengumpulan Data Metode Eksperimen
Metode eksperimen digunakan dalam penelitian ini karena dapat memberikan data yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Dalam penelitian ini dilakukan proses pengecoran dengan variasi komposisi, waktu pencairan alumunium dan waktu pendinginan alumunium yang berbeda-beda.


Analisa Kekuatan Tarik dan Tekan Cetakan Pasir akibat Variassi Ukuran Butir dan Kadar Pengikat Pasir Cetak
Penelitian dilaksanakan di divisi pengecoran PT. x dengan menggunakan 2 macam pengujian, yaitu pengujian kekuatan Tarik dan pengujian kekuatan tekan. Penelitian dilakukan dengan variasi ukuran butir pasir cetak GFN 25-30 AFS dan GFN 40-50 AFS serta variasi kadar bahan pengikat sebanyak 1%, 1,3%, dan 15%. Ukuran butir hanya berpengaruh pada kekuatan Tarik cetakan, sedangkan kadar pengikat berpengaruh pada kekuatan Tarik juga kekuatan tekan cetakan pasir. Penambahan kadar pengikat memberikan pengaruh meningkatkan kekuatan taarik dan tekan cetakan pasir pada persentase 1% hingga 1,5%. Semakin banyak persentase binder yang digunakan akan meningkatkan kekuatan Tarik dan kekuatan tekan cetakan pasir tertinggi yang dicapai oleh penggunaan kadar pengikat paling banyak dalam penelitian ini, yaitu 1,5% nilai rata-rata kekuatan tekan tertinggi yaitu 2,7567 N/mm².

Pengaruh Variasi Abu Sekam Dan Bentonit Pada Cetakan Pasir Terhadap Kekerasan Dan Sttuktur Mikro Hasil Coran Alumunium AA 1100
Obyek dalam penelitian ini adalah benda uji berupa Alumunium AA 1100 hasil pengecoran yang dicetak menggunakan cetakan pasir. Pembentukan cetakan pasir terbentuk dari dua proses pencampuran komponen cetakan pasir yang terdiri dari pasir cetak, silica, bentonite, air dan abu sekam. Butiran yang berbentuk dai unsur bentonite 14% dan abu 6% sebagai pengikat yang dicampurkan pada pasir cetak dan pasir silica menghasilkan cetakan pasir yang berstruktur minimum untuk dialiri udara sehingga kecepatan proses pendinginan menjadi lambat, hal ini menjadi penyebab rendahnya nilai kekerasan hasil coran yang hanya bernilai 18.5446 HBW. Hal yang sama terjadi ditunjukan kembali saat perbandingan bentotit 6% dan abu ssekam 14% berbanding terbalik, dimana butiran yang berbentuk dalam menyusun struktur cetakan pasir juga minimum untuk dialiri udara dengan nilai kekerasan yang diperoleh hanya bernilai 17.7636. Fenomena ini menjelaskan bahwa kadar tidak kesetimbangan antara bentonite dan abu sekam mempengaruhi terbentuknya butiran penyusun struktur cetakan pasir yang minimum untuk dialiri udara yang menjadi penyebab proses pendinginan melambat sehingga menyebabkan rendahnya nilai kekerasan dari logam yang dicetak.
Proses Penuaan Pada Paduan Aluminium AA 333 Hasil Proses Sand Casting
Paaada paduan aluminium AA 333 diperoleh bahwa peningkatan temperature aging hingga 180ºC selama 5jam dapat meningkatkan kekerasan aas-quench dari 73,538 VHN menjadi 80,925 VHN. Ketika temperature terus ditingkatkan hingga 250ºC dengan waktu aging yang tetap, kekerasannya menurun kembali hingga 60,933 VHN, hal ini berkaitan pula dengan fase yang terbentuk pada paduan aluminium AA 333 as-quench yang mempunyai morfologi sturktur interdendritik terdiri dari silicon primer, Al15 (Mn,Fe),Si2, Al-CuAl2 (autektik) dan αAl fase silicon primer mempunyai morfologi needle.















DAFTAR PUSTAKA

Umar,Siproni.2010.”PENGARUH PROSES/METODE PENGECORAN TERHADAP SIFAT-SIFAT MEKANIS PADA BALING-BALING (PROPELLER) MOTOR TEMPEL (KETEK)”.Palembang: Politeknik Negeri Sriwijawa.
ARYA MAHENDRA SAKTI, PRABA APRILIYANTO.2014.”ANALISA VARIABEL PROSES PRODUK PENGECORAN LOGAM MENGGUNAKAN CETAKAN SAND CASTING”.Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Sella Devianty,Ahmad Syuhri,Hari Abianti.2014.”Analisa Kekuatan Tarik dan  Tekan Cetakan Pasir akibat Variasi Ukuran Butir dan Kadar Pengikat Pasir Cetak”.Jember: Alumni Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Falkustaas Teknik Universitas Jember.
Tarkono,Harnowo S,Doni Sewando.2013.”PENGARUH VARIASI ABU SEKAM DAN BENTONIT PADA CETAKAN PASIR TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO HASIL CORAN ALUMUNIUM AA 1100”.Bandar Lampung: Fakultas Teknik Universitas Lampung.
Anne Zulfia,Ratna Juwita,Ari Uliana,I nyoman jujur,Jarot Raharjo.”Proses Penuaan (Aging) pada Aluminium AA 333 Haasil Proses Sand Casting”.Jakarta: Departemen Metalurgi dan Material,Fakultas Teknik Unniversitas Indonesia.

Minggu, 05 November 2017

flowchart metodologi penelitian


jurnal getaran


ANALISIS KEBISINGAN DAN GETARAN MEKANIS PADA TRAKTOR TANGAN Noise and Vibration Analysis of Hand Tractor Sigit Prabawa1

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa kebisingan dan getaran mekanis pada traktor tangan.  Kebisingan diukur dengan sound level meter tipe digital. Getaran mekanis diukur dengan portable vibration meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan pada traktor tangan Perkasa 700 GX adalah 88-99 dB(A), melebihi batas ambang kritis yaitu 85 dB(A). Tingkat kebisingan yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pendengaran. Hasil penelitian juga menunjukkan tingkat getaran mekanis dengan frekuensi 2.10 Hz dan percepatan 24.20 m/det2 yang melebihi batas yang diijinkan yaitu frekuensi 2.10 Hz dan percepatan 10 m/det2. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kebisingan dan getaran mekanis pada traktor tangan adalah perbaikan konstruksi, diantaranya dengan perbaikan rancangbangun motor (khususnya muffler), pemasangan ring per pada semua baut, serta penggunaan shock breaker dan engine. Selain itu juga perlu diperhatikan penggunaan pelindung telinga bagi operator traktor tangan.

Kata kunci: Kebisingan, getaran mekanis, kesehatan, produktivitas, efisiensi.

ABSTRACT

The objective of the research was to analyze noise and vibration of hand tractor.  Noise was measured with digital sound level meter, while vibration was measured with portable vibration meter. The result showed that the noise level of hand tractor Perkasa 700 GX which was 88 – 99 dB (A) exceeded the critical tolerance level of 85 dB (A), while the vibration level of 2.10 Hz with acceleration of 24.20 m/sec2exceeded the critical tolerance level of 2.10 Hz with acceleration of 10.00 m/sec2. To reduce noise and vibration, it is suggested to improve construction of the hand tractor by improving engine design especially the muffler, installing a spring ring on each bolt, mounting shock breakers, as well as using an engine. It is also recommended to use ear protectors.

Keywords: Noise, vibration, healthy, productivity, efficiency

PENDAHULUAN

Penggunaan alat dan mesin pertanian seperti traktor tangan  adalah salah satu usaha untuk mendapatkan produktivitas dan efisiensi yang tinggi pada sektor pertanian.  Meskipun demikian, penggunaan traktor tangan menghadapi beberapa kendala antara lain kebisingan dan getaran mekanis yang dapat menimbulkan masalah dalam kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja. Apabila permasalahan tersebut tidak dicegah dan diatasi maka hal ini dapat mengakibatkan menurunnya produktivitas dan efisiensi kerja. Oleh karena itu perlu dilakukan studi tentang kebisingan dan getaran mekanis pada penggunaan traktor tangan. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan bahan masukan bagi perbaikan rancangbangun merupakan beberapa hal yang mendukung kenyamanan dan keselamatan kerja.

Penggunaan alat dan mesin pertanian harus dapat mencegah terjadinya permasalahan kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja.  Kenyamanan kerja dapat mengendalikan timbulnya kejerihan (kelelahan dan kejenuhan) kerja. Hal ini dapat dicapai diantaranya melalui kesesuaian ukuran alat dan mesin dengan kondisi ukuran tubuh operator, getaran mekanis yang dapat teredam, keluwesan gerak alat dan mesin., dan rancangbangun dengan bentuk dan warna yang menarik. Sedangkan kesehatan kerja ditujukan agar pekerja atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang setinggi­tingginya, baik fisik atau mental maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit­penyakit/gangguan­gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor­faktor pekerjaan dan lingkungan kerja (Sabdoadi, 1981). Pada penggunaan traktor tangan, polusi udara akibat asap dari pipa pembuangan (exhauster) dengan kadar debu yang melebihi batas toleransi dan suara bising motor dapat mengganggu kesehatan operator.  Keselamatan kerja ditujukan untuk menghindari ada nya kecelakaan kerja. Menurut Sabdoadi (1981), kecelakaan ker ja dapat terjadi karena tindakan seseorang yang membahayakan atau pemaparan terhadap alat dan mesin yang dalam keadaan membahayakan. Penyediaan alat­alat pengaman sebagai pelindung di sekeliling bagian­bagian yang bergerak harus di pertimbangkan dengan sangat hati­hati (Smith dan Wilkes, 1978). Permasalahan kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja pada penggunaan alat dan mesin pertanian merupakan perhatian yang serius terhadap faktor manusia dalam rancangan alat dan mesin.  Hal tersebut dipelajari dalam Ergonomika yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon yang berarti kerja dan nomos yang berarti aturan (Bridger, 1995).  Ergonomika mempelajari rancangan suatu sistem dimana manusia terlibat. Semua sistem kerja terdiri dari komponen manusia dan komponen mesin dalam sebuah lingkungan lokal. Ergonomika diantaranya mencakup permasalahan kebisingan dan getaran mekanis.

Kebisingan (Noise) Jika suatu obyek atau permukaan yang bergetar sedemikian besar, maka getaran itu memberikan energi ke udara di sekelilingnya dan menghasilkan suara (Eargle, 1976). Telinga manusia sangat peka terhadap fluktuasi tekanan yang kecil yang disebabkan oleh gelombang suara.  Suara dapat menimbulkan kerusakan pendengaran atau kerusakan fisiologis lainnya, menyebabkan iritasi dan gangguan. Jika demikian halnya maka suara berubah menjadi kebisingan (noise), yaitu hanya apabila secara fisiologis maupun psikologis tidak diinginkan (Lipscomb, 1978). Efek kerusakan pendengaran yang ditimbulkan tergantung pada frekuensi, tingkat tekanan suara, dan lama pen

Dengaran Dari Gambar 1 dapat diturunkan persamaan matematis untuk perpindahan titik (displacement) menurut Liljedahl (1989), yaitu :  t AI w sin=  ..............................................  (1) dimana  I :   jarak perpindahan (displacement) A :   amplitudo :   kecepatan sudut ω

 t :   waktu                   dimana  İ :  kecepatan   cos t A İ w w =  ............................ (2)

dimana  Ï :  percepatan    t A Ï w w cos 2 − =  ........................................ (3)                     dimana  f :  frekuensi getaran    f Π= 2w ................................... (4))              dimana  T :  perioda getaran  

 T f 1 = ........................................ (5) Getaran mekanis yang dirasakan operator disalurkan melalui bagian tubuh yang berhubungan dengan sumber getaran, biasanya pada pantat, telapak tangan, lengan, dan kaki.  Kadang­kadang getaran hanya terasa pada telapak tangan atau lengan saja, namun kadang juga getaran terasa pada seluruh tubuh.

Gambar  2.  Rekomendasi untuk waktu yang diijinkan dari getaran mekanis pada seluruh tubuh sebagai fungsi dari frekuensi (Zander, 1972)

Getaran pada seluruh tubuh dan getaran pada tangan memberikan pengaruh yang berbeda. Getaran pada seluruh tubuh memberikan efek yang lebih komplek mulai dari

HASIL DAN PEMBAHASAN Kebisingan (Noise) Dari pengukuran kebisingan diperoleh data kisaran tingkat kebisingan traktor tangan Perkasa 700 GX yang digunakan untuk pengolahan tanah dengan bajak singkal pada lahan sawah, yaitu 88 – 90 dB (A). Menurut standar ISO (Zander, 1972), tingkat suara diatas 85 dB (A) merupakan batas maksimum yang diijinkan  untuk pekerjaan selama maksimum 8 jam. Pada umumnya jam kerja penggunaan alat mesin pertanian adalah 8 jam per hari.  Jika demikian halnya, maka tingkat suara yang dihasilkan traktor tangan Perkasa 700 GX melebihi batas yang diijinkan.  Apabila tidak ada perbaikan konstruksi, maka usaha yang dapat dilakukan adalah penggunaan pelindung telinga. Jika dilakukan perbaikan konstruksi maka usaha yang dapat dilakukan diantaranya adalah perbaikan rancangbangun motor dan penggunaan ring per pada setiap baut sehingga dapat meredam suara dan juga getaran. Selain itu juga harus diperhatikan muffler (knalpot) sebagai komponen motor untuk mengurangi kebisingan. Tipe muffler yang digunakan adalah disipatip (dissipative muffler). Pada penelitian ini tidak dilakukan pengujian secara khusus terhadap muffler yang digunakan pada traktor tangan Perkasa 700 GX. Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 090425­1989 tentang cara uji peredam suara gas buang ken daraan bermotor roda empat yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) dapat digunakan sebagai referensi jika akan dilakukan pengujian terhadap muffler yang digunakan pada traktor tangan Perkasa 700 GX. Standar ini menetapkan persyaratan cara uji peredam suara gas buang kendaraan bermotor roda empat yang meliputi uji kebisingan statik, uji kebisingan dinamik, uji kebocoran, dan uji bahan (BSN, 1989). Penggunaan engine revitalizant perlu dilakukan untuk mengurangi kebisingan dan getaran mesin. Hasil gel revitalisasi membentuk lapisan metalloceramic karakteristik yang unik pada permukaan pasangan komponen mesin yang bergesekan dan melindungi komponen transmisi (pinion gear & bearing) dari gesekan (KOSTER, 2009). Getaran Mekanis (Vibration) Dari data pengukuran getaran mekanis dapat dihitung frekuensi getaran dengan menggunakan Persamaan 3 dan 4 sehingga diperoleh persamaan seperti berikut:



t A

 Ï f

 w sin 2 4

 Π =   …………..............……………   (6) dengan sudut 37°, maka sin ωt = 0,6, sehingga

A

Ïf 83 ,11 =  ………........…………………………  (7)

Ternyata baik menurut standar ISO maupun BSI getaran dari traktor tangan Perkasa 700 GX termasuk tinggi. Hal ini harus diatasi karena dapat mengganggu kesehatan dan menurunkan performansi kerja.  Pengaruh getaran dalam jangka pendek dapat mengurangi kenyamanan kerja, meningkatkan tensi otot, dan pemucatan telapak tangan karena pengecilan pembuluh darah. Dalam jangka panjang, getaran berpengaruh pada masalah kesehatan yaitu spinal disorders, hermorruids, hernials, dan kesulitan pembuangan air kemih. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah meredam getaran yang ditimbulkan traktor tangan diantaranya dengan perbaikan rancangbangun motor (khusunya muffler), penggunaan shock breaker, dan penggunaan engine revitalizant.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 1. Rancangbangun dan penggunaan traktor tangan harus memperhatikan tingkat kebisingan dan getaran mekanis yang ditimbulkan untuk mendapatkan kenyamanan, kesehatan, dan keselematan kerja serta produktivitas dan efisiensi kerja yang tinggi. 2. Tingkat kebisingan traktor tangan Perkasa 700 GX untuk pengolahan tanah dengan bajak singkal pada lahan sawah (88 – 99 dB(A)) melebihi batas yang diijinkan (85 dB(A)). 3. Tingkat getaran mekanis traktor tangan Perkasa 700 GX untuk pengolahan tanah dengan bajak singkal pada lahan sawah (frekuensi 2.10 Hertz – percepatan 24.20 m/det2) melebihi batas yang diijinkan (frekuensi 2.10 Hertz – percepatan 10 m/det2).

Saran 1. Perlu penggunaan pelindung telinga untuk mencegah/ mengurangi gangguan pendengaran pada operator. 2. Perlu perbaikan konstruksi seperti perbaikan rancangbangun motor (khususnya muffler), penggunaan per ring pada setiap baut, penggunaan shock breaker, dan penggunaan engine revitalizant untuk mengurangi kebisingan dan getaran mekanis. 3. Perlu penelitian lebih lanjut secara khusus terhadap muffler dengan melakukan uji peredam suara gas buang

Penggunaan alat dan mesin pertanian dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja. Hal ini dapat dicapai apabila pemilihan alat dan mesin pertanian yang akan digunakan baik dan tepat. Menurut Smith dan Wilkes (1978), beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih alat dan mesin pertanian adalah merek dagang, nama dagang, model, perbaikan, rancangbangun, kemudahan pengoperasian, kemudahan penyetelan, kondisi dan kesesuaian kerja, kecepatan penggantian unit, keluwesan gerak, dan kenyamanan.  Pertimbangan rancangbangun, kemudahan pengoperasian, kemudahan penyetelan, keluwesan gerak, dan kenyamanan

dengaran. Secara umum tingkat tekanan suara yang permanen pada 85 dB dan tidak ada perlindungan pada telinga dapat menyebabkan kerusakan pendengaran (Zander, 1972). Sedangkan di Amerika Serikat, menurut OSHA (Occupational Safety and Health Administration) ditetapkan 90 dB (A) sebagai batas maksimum yang diijinkan dengan lama pendengaran 8 jam terus menerus (Bridger, 1995). Hubungan antara tingkat suara dan lama pendengaran yang diijinkan disajikan pada Tabel 1. Suara dapat diukur secara obyektif, tetapi kebisingan merupakan fenomena yang subyektif (Bridger, 1995).  Alat ukur yang dapat dipakai untuk pengukuran tingkat suara adalah Sound Level Meter. Tabel 1.  Hubungan tingkat suara dengan lama pendengaran yang diijinkan (Libscomb, 1978)

Tingkat suara (dBA)

Waktu yang diijinkan (jam – menit)

Tingkat suara (dBA)

Waktu yang diijinkan (jam – menit) 85        16 – 0    101      1 – 44 86        13 – 56 102      1 – 31 87        12 – 8 103      1 – 19 88        10 – 34 104      1 – 9 89          9 – 11 105      1 – 0 90          8 – 0 106      0 – 52 91          6 – 58 107      0 – 46 92          6 – 4 108      0 – 40 93          5 – 17 109      0 – 34 94          4 – 36 110      0 – 30 95          4 – 0 111      0 – 26 96          3 – 29 112      0 – 23 97          3 – 2 113      0 – 20 98          2 – 50 114      0 – 17 99          2 – 15 115      0 – 15 Getaran Mekanis Menurut Zander (1972), lahan dan permukaan jalan yang tidak rata, profil roda, serta bekerjanya motor dan bagian mesin lainnya dapat menimbulkan getaran mekanis pada operator. Getaran pada dasarnya dibedakan menjadi dua tipe yaitu getaran sinusoidal dan getaran random. Getaran sinusoidal yang berupa gerakan harmonis sederhana disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Getaran sinusoidal dari gerak harmonis sederhana (Liljedahl, 1989)

jantung, peredaran darah hingga penurunan daya lihat serta konsrentasi seseorang. Getaran mekanis dapat berpengaruh buruk pada operator karena dapat menimbulkan gangguan penurunan performansi dan kesehatan. Pengaruh getaran dalam jangka pendek hanya memberikan sedikit efek psikologis, tetapi dalam jangka panjang efek getaran dapat menimbulkan masalah dalam spinal disorders, hermorruids, hernials, dan kesulitan pembuangan air kemih. Getaran dapat berpengaruh meningkatkan tensi otot dan vibration induced finger yaitu pemucatan telapak tangan karena pengecilan pembuluh darah  (McCormick, 1970). Batas aman getaran mekanis yang dapat diterima tubuh manusia dan waktu pemulihan akibat getaran disajikan pada Gambar 2 dan 3. Alat ukur yang dapat digunakan untuk pengukuran getaran mekanis adalah Vibration Meter.

Gambar  3.  Grafik batas getaran mekanis yang diijinkan menurut standar BSI (British Standard Institute) (Herodian, 1999)

METODE PENELITIAN Traktor tangan yang digunakan adalah traktor tangan Perkasa 700 GX yang diproduksi oleh PT Heavyndo Perkasa Engineering, Subang, Indonesia dengan kelengkapan peralatan bajak singkal. Penelitian telah dilakukan pada tanggal 3 Nopember 1999 di Desa Laladon, Bogor yaitu kegiatan pengolahan tanah dengan  bajak singkal pada lahan sawah. Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan Sound Level Meter tipe digital, dimana alat tersebut dipegang di samping telinga operator dan arahkan ujungnya ke depan (arah maju kegiatan), kemudian diamati dan dicatat angka yang ditunjukkan. Pengukuran getaran mekanis dilakukan dengan menggunakan Portable Vibration Meter merek IVM model VM33144. Parameter getaran mekanis yang diukur adalah percepatan (acceleration), kecepatan (velocity), dan perpindahan (displacement). Pengukuran dilakukan dengan cara memasang sensor dari alat tersebut dengan baik dan benar pada bagian tangkai kemudi traktor tangan, kemudian diamati dan dibaca jarum penunjuk sesuai dengan skala dan fungsi yang dipilih.

dimana f  :   frekuensi (Hertz, Hz) Ï  :   percepatan (m/det2) A :   amplitudo (m), dengan data displacemet

Hasil perhitungan frekuensi getaran disajikan pada Tabel 2,  kemudian nilai frekuensi dan percepatan diplotkan pada Gambar 2 dan 3 sehingga diperoleh Gambar 4 dan 5. Tabel 2.  Hasil perhitungan frekuensi getaran mekanis traktor tangan Perkasa 700 GX Kegiatan : pengolahan tanah dengan bajak singkal Ulangan Acceleration (m/det2) Displacement (m) Frequency (Hz) 1 24.00 0.50 2.01 2 25.00 0.30 2.65 3 23.00 0.50 1.97 4 22.00 0.50 1.93 5 27.00 0.60 1.95 Rata­rata 24.20 0.48 2.10                                                                                                                                  

Gambar 4. Performansi getaran mekanis traktor tangan Perkasa 700 GX menurut standar ISO                                                                                   

Gambar 5. Performansi getaran mekanis traktor tangan Perkasa 700 GX menurut standar BSI

pada traktor tangan dan modifikasi tipe muffler dari disipatip menjadi kombinasi disipatip dan reaktip.

























DAFTAR  PUSTAKA

BSN (Badan Standardisasi Nasional) (1989). SNI 09­04251989 tentang cara uji peredam suara gas buang kendaraan bermotor roda empat. http://www.bsn.go.id/sni/ sni.php [24 Maret 2009]. Bridger, R.S. (1995). Introduction to Ergonomics, int’l edition. McGraw­Hill, Inc., Singapore. Eargle, J. (1976). Sound Recording. Van Nostrand Reinhold Company, USA. Herodian, S. (1999). Pedoman Praktikum Ergonomika. JICA – IPB, Bogor. Hunt, D. (1977). Farm Power and Machinery Management, 7th edition. Iowa State University Press, Ames, Iowa. KOSTER (Komunitas Suzuki Thunder Indonesia). (2009). Engine Revitalizant: Performance Booster: Xado Revitalizant. http://www.suzuki­thunder.net [24 Maret 2009]. Liljedahl, J.B. (1989). Tractors and Their Power Units, 4th edition. Avi Book, New York. Lipscomb, D.M. (1978). Noise and Audiology.University Park Press, Baltimore. McCormick, E.J. (1970). Human Factors Engineering, 3rd edition. McGraw­Hill Book Company, USA. PTHPS (PT. Heavyndo Perkasa Engineering) (1996). Buku Petunjuk Pemakaian dan Perawatan Traktor Tangan Perkasa 700 GX. PT Heavyndo Perkasa Engineering, Subang. Sabdoadi (1981). Pencegahan Kecelakaan Kerja di Industri. Universitas Airlangga, Surabaya. Smith, H.P. dan Wilkes L.H. (1978). Farm Machinery and Equipment, 6th edition. Tata McGraw­Hill Publishing Company Ltd., New Delhi. Zander, J. (1972). Ergonomics in Machine Design (A Case Study of the Self Propelled Combine Harvester). H. Veenman & Zonen N.V., Wageningen.