Jumat, 29 September 2017

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN


BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
           Era modern ini, semua aktivitas selalu mempunyai runjukan dan pedoman. Karena hal itu menunjang kesuksesan dan kekonkritan segala aspek. Oleh karena itu sebuah penelititanpun juga harus mempunyai rujukan yang jelas dan dapat dijadikan pegangan.
Metode penelitian terbagi menjadi dua, yaitu metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif mempunyai cirri khas angka, atau perhitungan. Berbeda dengan kualitatif, yang cenderung pada proses penelitian. Lebih jelasnya penjelasan tersebut akan dijabarkan dalam makalah ini. Dengan judul “Konsep dan Karakteristik Metode Penelitian Kualitatif”.
2.   RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah yang akan dibahas yaitu :
  1. Apa Pengertian Penelitian Kulitatif?
  2. Apa sajakah kemampuan peneliti Penelitian kualitatif?
  3. Bagaimana Karakteristik Penelitian Kualitatif?

BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian metode penelitian kualitatif
Metodologi penelitian kualitatif dinamakan sebagai metode baru, karena popularitasnya belum lama, dinamakan metode postpositivistik karena berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Metode ini disebut disebut juga sebagai metode artistik, karena proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola), dan disebut sebagai metode interpretive karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interprestasi terhadap data yang ditemukan dilapangan.
Metodologi penelitian kualitatif juga sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting); disebut juga sebagai metode etnoghrapi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut juga sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul analisisnya lebih bersifat kualitatif.
Filsafat postpositivisme sering juga disebut sebagai paradigma interpretif dan konstruktif, yang memandang realitas sosialsebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif (reciprocal). Penelitian dilakukan pada obyek yang alamiah. Obyek yang alamiah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak begitu mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument, yaitu peneliti itu sendiri. Untuk dapat menjadi instrumen, maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret, dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap situasi sosial pendidikan yang diteliti, maka teknik pengumpulan data bersifat trianggulasi, yaitu menggunakan berbagai teknik pengumpulan data secara gabungan atau simultan. Analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dilapangan dan dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai dibalik data yang tampak. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna. Generalisasi dalam penelitian kualitatif dinamakan transferability.
Objek penelitian kualitatif adalah seluruh bidang/aspek kehidupan manusia, yakni manusia dan segala sesuatu yang dipengaruhi manusia. Objek itu diungkapkan kondisinya sebagaimana adanya atau dalam keadaan sewajarnya (natural setting), mungkin berkenaan dengan aspek/bidang kehidupannya yang disebut ekonomi kebudayaan, hukum, administrasi, agama dan sebagainya. Data kualitatif tentang objeknya dinyatakan dalam kalimat, yang pengolahannya dilakukan melalui proses berpikir (logika) yang bersifat kritik, analitik/sintetik dan tuntas.
Dan Penelitian kualitatif adalah salah satu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang kenyataan melalui proses berfikir induktif. Dalam penelitian ini, peneliti terlibat dalam situasi dan setting fenomenanya yang diteliti. Peneliti diharapkan selalu memusatkan perhatian pada kenyataan atau kejadian dalam konteks yang diteliti. Setiap kejadian merupakan sesuatu yang unik dan berbeda dengan yang lain karena ada perbedaan konteks.
Para peneliti lebih senang menghubungi beberapa informan kunci dari suatu komunitas. Jumlah informan yang dijadikan responden jumlahnya dapat dikatakan relatif kecil sekali. Sebagai konsekuensinya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para peneliti relatif mendalam sekali. Kesediaan informan untuk mau menghabiskan waktunya berjam-jam dalam beberapa hari sering menjadi pertanda berhasilnya proses wawancara.
Tugas peneliti adalah mengumpulkan data dan menyajikannya sedemikian rupa sehingga para informan dibiarkan berbicara sendiri. Tujuannya adalah untuk membuat laporan apa adanya dengan sedikit atau tanpa interpretasi atau campur tangan atas kata-kata lisan informan dan dengnan sedikit atau tanpa penafsiran atas pengamatan yang dilakukan oleh para peneliti sendiri. Walau kelompok peneliti ini berpendapat bahwa pandangan informan tentang realitas tidak mencerminkan ”kebenaran”, namun pendapat subjek dilaporkan secara spontan dan penuh makna.
Penelitian kualitatif umumnya digunakan dalam dunia ilmu-ilmu sosial dan budaya misalnya penelitian kebijakan, ilmu politik, administrasi, psikologi komunitas dan sosiologi, organisasi dan manajemen, bahkan sampai pada perencanaan kota dan perencanaan regional.
Menurut Miles dan Hubermen bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertitik tolak dari realitas dengan asumsi pokok bahwa tingkah laku manusia mempunyai makna bagi pelakunya dalam konteks tertentu. Sehingga ada tiga aspek pokok yang harus dipahami:
  1. Pada dasarnya manusia selalu bertindak sesuai dengan makna terhadap semua yang ditemui dan dialami di dunia ini.
  2. Makna yang ditemui dan dialami timbul dari interaksi antar individu.
  3. Manusia selalu menafsirkan makna yang ditemui dan dialami sebelum ia bertindak, tindakan yang dijalankan sejalan dengan makna terhadap barang yang digunakan.
Alasan Memilih Penelitian Kualitatif
Strauss dan Corbin menyatakan bahwa seseorang yang melakukan penelitian kualitatif memiliki beberapa alasan. Pertama, adalah alasan demi kemantapan peneliti berdasarkan pengalaman penelitiannya. Beberapa peneliti yang memiliki latar belakang bidang pengetahuan seperti antropologi, atau yang terkait dengan orientasi filsafat seperti fenomenologi, biasanya dianjurkan untuk menggunakan metode kualitatif. Kedua, adalah alasan untuk tidak terjebak pada angka-angka hasil pengolahan dengan menggunakan teknik statistik yang cenderung berlaku untuk populasi. Ketiga, adalah alasan dari sifat masalah yang diteliti. Dalam beberapa bidang studi, pada dasarnya lebih tepat digunakan jenis penelitian kualitatif. Contoh dari penelitian semacam ini adalah penelitian untuk mengungkap sifat pengalaman seseorang dengan fenomena seperti sakit, berganti agama, ketagihan obat, kehidupan pengemis , dan pola partisipasi wanita bekerja di luar rumah.
Penelitian kualitatif menuntut keteraturan, ketertiban dan kecermatan dalam berpikir, tentang hubungan datta yang satu dengan data yang lain dan konteksnya dalam masalah yang akan diungkapkan. Beberapa alasan mengenai maksud dilakukannya penelitian kualitatif:
  1. Untuk menanggulangi banyaknya informasi yang hilanng seperti yang dialami oleh penelitian kuantitatif, sehingga intisari konsep yang ada dalam data dapat diungkap.
  2. untuk menanggulangi kecenderungan menggali data empiris dengan tujuan membuktikan kebenaran hipotesis berdasarkan berpikir deduktif seperti dalam penelitian kuantitatif.
  3. untuk menanggulangi kecenderungan pembatasan variabel yang sebelumnya, seperti dalam penelitian kuantitatif, padahal permasalahan dan variabel dalam masalah sosial sangat kompleks.
  4. untuk menanggulangi adanya indeks-indeks kasar seperti dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan pengukuran enumirasi (perhitungan) empiris, padahal inti sebenarnya berada pada konsep-konsep yang timbul dari data.
  1. Karakteristik umum penelitian kualitatif
Dari hasil penelaahan pustaka yang dilakukan Moleong atas hasil dari mensintesakan pendapatnya Bogdan dan Biklen (1982:27-30) dengan Lincoln dan Guba (1985:39-44) ada sebelas ciri penelitian kualitatif, yaitu:
  1. Penelitian kualitatif mennggunakan latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (enity)
  2. Penelitian kualitatif instrumennya adalah manusia, baik peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain
  3. Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif
  4. Penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif
  5. Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan teori subtantif yang berasal dari data
  6. Penelitian kualitatif mengumpulkan data deskriptif (kata-kata, gambar) bukan angka-angka
7.   Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses daripada hasil
  1. Penelitian kualitatif menghendaki adanya batas dalam penelitiannya atas dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian
  2. Penelitian kualitatif meredefinisikan validitas, realibilitas dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik
  3. Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan (bersifat sementara)
  4. Penelitian kualitatif menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sumber data.

  1. Ciri-ciri Penelitian Kualitatif

  1. Lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung
  2. Manusia merupakan alat (instrumen) utama pengumpulan data
  3. Analisis data dilakukan secara induktif
  4. Penelitian bersifat deskriptif analitik (data berupa kata-kata, gambar, perilaku) tidak dituangkan dalam bentuk bilangan/ angka statistik
  5. Tekana penalitian berada pada proses, penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan segi proses daripada hasil.
  6. Pembatasan penelitian berdasarkan fokus
  7. Perencanaan bersifat lentur dan terbuka
  8. Hasil penelitian merupakan kesepakatan bersama
  9. Pembentukan teori berasal dari dasar
  10. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif
  11. Teknik sampling cenderung bersifat purposive
  12. Penelitian bersifat menyeluruh (holistik)
  13. Makna sebagai perhatian utama penelitian

Karakteristik penelitian kualitatif:
1)      Latar alamiah
  1. Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan
  2. Peneliti memasuki dan melibatkan sebagian waktunya di sekolah, keluarga, tetangga dan lokasi lainnya untuk meneliti maslaah pendidikan atau sosiologi
2)      Manusia sebagai alat (instrumen)
Peneliti/ dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama.
3)      Metode kualitatif
  1. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda
  2. Menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden
  3. Metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penyamaan pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi
4)      Analisis data secara induktif
  1. Proses induktif lebih dapat menemukan kenyataan-kenyataan ganda sebagian yang terdapat dalam data
  2. Lebih dapatmenguraikan latar secara penuh dan dapat membuat keputusan-keputusan tentang dapat-tidaknya pengalihan kepada suatu latar lainnya
  3. Analisis induktif lebih dapat menemukan pengaruh bersama yang mempertajam hubungan-hubungan
  4. Dapat memperhitunngkan nilai-nilai secara eksplisit sehingga bagian dari struktur analitik
5)      Teori dari dasar
6)      Deskriptif
7)      Lebih mementingkan proses daripada hasil
8)      Adanya batas yang ditentukan oleh fokus
9)      Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data
10)  Desain yang bersifat sementara
 Langkah-Langkah Penelitian Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif memiliki susunan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Memilih masalah
  2. Studi pendahuluan
  3. Merumuskan masalah
  4. Merumuskan hipotesis
  5. memilih pendekatan
  6. Menentukan variabel dan sumber data
  7. Menentukan dan menyusun instrumen
  8. Mengumpulkan data
  9. Analisis data
  10. Menarik kesimpulan
  11. Menulis laporan

  1. Teknik Pengumpulan Data
Berbagai cara pengumpulan data untuk penellitian kualitatif terus berkembang, namun demikian pada dasarnya ada empat cara yang mendasar untuk mengumpulkan informasi yaitu:

  1. Observasi
Observasi yaitu tindakan yang merupakan penafsiran dari teori (karl popper). Namun dalam penelitian, pada waktu memasuki ruang kelas dengan maksud mengobservasi, sebaiknya meninggalkan teori-teori untuk menjustifikasi sebuah teori atau menyanggah. Observasi merupakan tindakan atau proses pengambilan informasi melalui media pengamatan. Dan menurut Nasution (1988) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil (proton dan elektron) maupun yang sangat jauh (benda ruang angkasa) dapat diobservasi dengan jelas.
Observasi yaitu teknik pengumpulan yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, waktu, peristiwa, tujuan dan perasaan.
Observasi yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.
Metode observasi dibedakan menjadi:
  1. Observasi biasa
Menurut prof. Parsudi suparlan, dalam observasi biasa si peneliti tidak boleh terlibat dalam hubungan emosi pelaku yang menjadi sasaran penelitian
  1. Observasi terkendali
Menurut prof. Parsudi suparlan, para pelaku yang akan diamati dan dikondisi-kondisi yang ada dalam tempat kegiatan. Pelaku diamati dan dikendalikan si peneliti
  1. Observasi terlibat
Menurut prof. Parsudi suparlan, observasi terlibat merupakan teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang di teliti untuk dapat melihat dan memahami gejala yang ada, sesuai maknanya dengan yang diberikan dipahami oleh para warga yang ditelitinya. Kegiatan observasi terlibat bukan hanya mengamati gejala yang ada dalam masyarakat yang diteliti, tetapi juga melakukan wawancara, mendengarkan, memahamidan dalam batas-batas tertentu mengikuuti kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang diteliti.

Keterlibatan peneliti dapat dibedakan menjadi empatkelompok yaitu:
1. Keterlibatan pasif: peneliti tidak terlibat dalam kegiatan yang dilakukan oleh pelaku yang diamati dan tidak terjadi interaksi sosial dengan pelaku yang diamati
  1. Keterlibatan setengah-setengah: peneliti mengambil sesuatu kedudukan yang berada dalam 2 hubungan struktural yang berbeda, yaitu antara struktur yang menjadi wadah bagi kegiatan yang diamati dan struktur dimana pelaku sebagai pendukung
  2. Keterlibatan aktif: peneliti ikut mengerjakan apa yang dilakukan para pelaku yang diamati dalam kehidupan sehari-hari
  3. Keterlibatan penuh/ lengkap: bila kegiatan peneliti telah menjadi bagian dari kehidupan pelaku yang diamati.


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan observasi:
  1. Memperhatikan fokus penelitian, kegiatan apa yang harus diamati apakah yang umum atau yang khusus.
  2. Menentukan kriteria yang diobservasi, dengan terlebih dahulu mendiskusikan ukuran-ukuran apa yang akan digunakan.

Fase-fase dalam observasi:
1.   Pertemuan perencanaan
  1. Observasi kelas
  2. Diskusi balikan

Ada berbagai keterbatasan observasi, yaitu sebagai berikut:
a)      Banyak kejadian yang tidak dapat dicapai dengan observasi langsung, misalnya kehidupan pribadi seseorang yang sangat rahasia
b)      Bila mengetahui bahwa dirinya diteliti, para observer mungkin dengan maksud-maksud tertentu dengan sengaja berusaha menimbulkan kesan yang menyenangkan atau sebaliknya pada observer.
c)      Timbul kejadian yang tidak selalu dapat diramalkan sehingga observer dapat hadir untuk mengobservasi kejadian itu. Jika penelitian dilakukan terhadap typical behavior, menunggu timbulnya behavior yang diharapkan itu secara spontan kerapkali memakan waktu yang panjang dan sangat membosankan.
d)     Tugas observasi menjadi terganggu pada waktu-waktu ada peristiwa yang tidak terduga-duga, misalnya keadaan cuaca.
e)      Terbatasi oleh lamanya kelangsungan suatu kejadian

Kelebihan observasi:
  1. Merupakan metode yang dapat langsung digunakan untuk meneliti bermacam-macam gejala. Banyak aspek tingkah laku manusia yang hanya dapat diteliti melalui observasi langsung.
  2. Untuk subjek yang diteliti, observasi ini lebih sedikit tuntutannya, orang-orang yang selalu sibukpun mungkin tidak berkeberatan untuk diamat-amati, walau dia mungkin keberatan menjawab kuesioner.
  3. Memungkinkkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya sesuatu gejala.
  4. Tidak tergantung kepada self-report
  5. Dengan metode observasi, peneliti dapat memperoleh pandangan yang holistik/ menyeluruh terhadap responden yang diteliti
  6. Peneliti dapat menggunakan variasi pendekatan termasuk pendekatan inductive discovery (yaitu pengamatan yang mendasarkan kepada kejadian spesifik mendalam dan realistik serta merefleksikan keadaan responden)
  7. Peneliti dapat melihat hal-hal yang tidak dapat diungkap dengan teknik lain termasuk perilaku biasa
  8. Peneliti dapat mengetahui dan melaporkan apa adanya tentang perilaku responden yang biasa maupun diluar konteks permasalahan yang hendak diteliti.

Hambatan-hambatan dalam pengamatan berasal dari 2sumber, yaitu:
  1. Hambatan dari dalam, termasuk diantaranya:
    1. Kurangnya persiapan apa yang dilakukan sebelum berinteraksi dengan responden
    2. Perasaan terasing dari peneliti terhadap responden
    3. Kurang bisanya peneliti beradaptasi dengan kegiatan, kebiasaan,dan tata cara hidup responden
    4. Tidak dapat memanfaatkan peran informan di lapangan.

  1. Hambatan yang berasal dari luar, diantaranya:

  1. Peneliti larut dengan responden dan kehilangan arah tentang informasi apa yang perlu diambil dari interaksi dengan responden
  2. Peneliti tidak dapat mengidentifikasi gejala yang diinginkan karena adanya aturan yang harus ditaati di lapangan
  3. Minimnya perlengkapan yang dimiliki peneliti dalam melakukan observasi di lapangan.


  1. Manfaat observasi
Menurut patton dalam Nasution (1988), dinyatakan bahwa manfaat observasi adalah sebagai berikut.
1)      Dengan observasi dilapangan peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh
2)      Dengan observasi maka akan memperoleh pengalaman langsung. Sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekataan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan atau Discovery.
3)      Dengan observasi, peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau tidak di amati orang lain, khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan terungkap dalam wawancara.
4)      Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akaan terungkapkan oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga.
5)      Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang diluar persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensip.
6)      Melalui pengamatan dilapangan, peneliti tidak hanya mengumpulkan data yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, dan measakan suasana atau situasi sosial yang diteliti olehnya.

  1. Wawancara
Wawancara yaitu pertemuan yang langsung direncanakan antara pewawancara dan yang diwawancarai untuk memberikan/ menerima informasi tertentu. Menurut Moleong (1988:148) wawancra adalah kegiatan percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pewawancara dan yang diwawancarai.
Wawancara merupakan pertanyaan yang dilakukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi atau penjelasan hal-hal yang dipandang perlu. Ada tiga teknik wawancara yaitu:
  1. Wawancara baku dan terjadwal
  2. Wawancara baku dan tidak terjadwal
  3. Wawancara tidak baku

Langkah-langkah wawancara

Lincoln and guba dalam sanapiah faisal, mengemukakan bahwa ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu
1)      Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan
2)      Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan
3)      Mengawali atau membuka alur wawancara
4)      Melangsungkan alur wawancara
5)      Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya
6)      Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh

Beberapa hal yang harus diperhatikan agar wawancara berlangsung efektik:
a)      Bersikaplah sebagai pewawancara yang simpatik, yang berperhatian dan pendengar baik, tidak berperan terlalu aktif, untuk menunjukkan bahwa anda menghargai pendapat anak
b)      Bersikaplah netral dalam relevansinya dengan pelajaran
c)      Bersikaplah tenang, tidak terburu-buru atau ragu-ragu dan anak akan menunjukkan sikap yang sama.
d)     Secara khusus perhatikan bahasa yang anda gunakan untuk wawancara

Adapun jenis-jenis pertanyaan dalaam wawancara yaitu sebagai berikut.
1)        Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman, contoh : bagaimana pengalaman bapak selama menjabat lurah disini?
2)        Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat, contoh : bagaimana pendapat anda terhadap pernyataan pak lurah yang menyatakan bahwa masyarakat disini partisipasi dalam pembangunan cukup tinggi. Bagaimana pendapat anda terhadap kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ?
3)        Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan, contoh : sepertinya ada masalah, apa yang sedang anda rasakan? Bagaimana rasanya menjadi relawan di Aceh ?
4)        Pertanyaan tentang pengetahuan, contoh pertanyaan : bagaimana proses terjadinya gempa tsunami ? berapa orang disini yang terkena bencana tsunami tersebut ? berapa bangunan penduduk dan pemerintah yang rusak ?
5)        Pertanyaan yag berkenaan dengan indera, pertanyaan ini digunakan untuk mengungkapkan data atau informasi karena yang bersangkutan melihat, mendengarkan, meraba dan mencium suatu peristiwa. Pada saat anda menengarkan ceramah pak Bupati, bagaimana tanggapan masyarakat petani? Pada saat anda melihat akibat gempa dipulau Nias, bagaimana peran pemerintah daerah. Andakan telah mencium minyak wangi itu, bagaimana baunya? Andakan telah memakan buah itu, bagaimana rasanya?
6)        Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang atau demografi, contoh pertanyaan : dimana dia dilahirkan, usia, pekerjaan dan lain-lain. Bekerja dimana? Sedang menjabatapa sekarang? Dan lain-lain.

Ada beberapa bentuk wawancara:
  1. Wawancara terstruktur yaitu apabila pewawancara sudah mempersiapkan bahan wawancara terrlebih dahulu
  2. Wawancara tidak terstruktur yaitu apabila prakarsa pemilihan topik bahasan diambil oleh orang yang di wawancarai
  3. Wawancara semi terstruktur yaitu bentuk wawancara yang sudah dipersiapkan, akan tetapi memberikan keleluasaan kepada responden untuk menerangkan agak panjang mungkin tidak langsung ke fokus bahasan/ pertanyaan, atau mungkin mengajukan topik bahasan sendiri selam wawancara berlangsung.
Uma sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik.

  1. Prinsip penulisan Angket
Prinsip ini menyangkut beberapa faktor yaitu sebagai berikut :\
1)      Isi dan tujuan pertanyaan
2)      Bahasa yang digunakan
3)      Tipe dan bentuk pertanyaan
4)      Pertanyaan tidak mendua
5)      Tidak menanyakan yang sudah lupa
6)      Pertanyaan tidak menggiring
7)      Panjang pertanyaan
8)      Urutan pertanyaan
9)      Prinsip pengukuran
10)  Penampilan fisik angket

3. Dokumen
Menurut Goetz dan Le compte (1984), dokumen yang menyangkut para partisipan penelitian akan menyedeikan kerangka bagi data yang mendasar, yang termasuk didalamnya:
  1. Koleksi dan analisis buku teks
  2. Kurikulum dan pedoman pelaksanaannya
  3. Arsip penerimaan murid baru
  4. Catatan rapat
  5. Catatan tentang siswa
  6. Rencana pelajaran dan catatan guru
  7. Hasil karya siswa
  8. Kumpulan dokumen pemerintah
  9. Koleksi arsip guru berupa buku harian, catatan peristiwa penting (logs) dan kenang-kenangan dari siswa angkatan lama

Macam-macam dokumen menurut Elliot (1991:78):
  1. Silabi dan rencana pembelajaran
  2. Laporan diskusi-diskusi tentang kurikulum
  3. Berbagai macam ujian dan tes
  4. Laporan rapat
  5. Laporan tugas siswa
  6. Bagian-bagian dari buku teks yang digunakan dalam pembelajaran
  7. Contoh essay yang ditulis siswa

         4. Triangulasi
Merupakan teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada, tujuan dari triangulasi bukan untuk mencari kebenaran tentang beberapa fenomena, tetapi lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan.

  1. Validitas Dan Reliabilitas
Validitas alat ukur diselidiki dengan (1) logika (2) statistik validitas ada macam-macam yaitu validitas isi, validitas prediktif dan validitas construct (konstruk)

  1. Validitas isi
Dengan validitas isi dimaksud bahwa isi/bahan yang diuji atau dites relevan dengan kemampuan, pengetahuan, pelaksanaan, pengalaman dan latar belakang orang yang diuji.
Validitas diperoleh dengan menagadakan sampling yang baik, yakni memilih item-item yang representatif dari keseluruhan bahan yang berkenaan dengan hal yang mengenai bahan pelajaran mungkin tidka sukar dicapai. Kesulitan dengan validitas isi ialah pilihanitem dilakukan secara subjektif yakni berdasarkan logika si peneliti.

  1. Validitas prediktif
Dengan validitas prediktif di maksudkan adanaya kesesuaian antara ramalan (prediksi) tentang kelakuan seseorang dengan kelakuannya yang nyata.
  1. Validitas konstruk
Digunakan bila kita sangsikan apakah gejala yang dites hanya mengandung satu dimensi, bila ternyata gejala itu mengandung lebih dari satu dimensi, maka validitas itu dapat diragukan. Keuntungan validitas konstruk kita mengetahui komponen-komponen sikap/sifat yang diukur dengan tes itu.
Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Jadi data yang valid adalah data yang tidak berbeda antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian.
Validitas dibedakan menjadi:
  1. Validitas internal: berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai.
  2. Validitas eksternal: berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada objek penelitian.

  1. Reliabilitas
Berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Suatu data dikatakan reliabel apabila dua atau lebih peneliti dalam objek yang sama atau peneliti sama dalam waktu yanng berbeda akan menghasilkan data yang sama atau sekelompok data apabila dipecah menjadi dua menjadi data yang tidak berbeda. Suatu data yang reliabel akan cenderung valid, walaupun belum tentu valid.
Suatu alat pengukur dikatakan reliable bila alat itu dalam mengukru suatu gejala pada waktu yang berlainan senantiasa menunjukkan hasil yang sama. Jadi alat yanng reliable secara konsisten memberi hasil ukuran yang sama. Reliabilitas merupakan syarat mutlak untuk menentukan pengaruh variabel yang satu terhadap variabel yangsatu lagi. Reliabilitas juga merupakan syarat bagi validitas satu tes, tes yang tidak reliable dengan sendirinya tidak valid.
Pengujian validitas dan reliabilitas
Dalam uji keabsahan data meliputi::
1)      Uji kredibilitas
Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian dapat dilakukan dengan;
  1. Perpanjangan pengamatan
  2. Meningkatkan ketekunan dalam penelitian
  3. Triangulasi (pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu)
  4. Analisis kasus negatif
  5. Menggunakan bahan referensi
  6. Mengadakan member check (proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data). Tujuan dari member check adalah agar informasi yang diperoleh dan digunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yang dimaksud sumber data atau informan.
  7. Diskusi dengan teman sejawat

2)      Pengujian transferability
Transferability merupakan validitas eksternal dalam penelitian kuantitatif. Validitas eksternal menunjukkan derajad ketepatan atau dapat di terapkannya hasil penelitian ke populasi dimana sample tersebut di ambil.
3)      Pengujian depenability
Dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian.
4)      Pengujian konfirmability
  1. Uji konfirmability mirip dengan uji depenobility, sehingga pengujian dapat dilakukan secara bersamaan.
  2. Uji konfirmability berarti menguji hasil penelitian dikaitkan dengan proses yang dilakukan.
  3. Komponen dan Sistematika Proposal
Komponen dan sistematika dalam proposal penelitian kualitatif, tidak berbeda dengan kuantitatif. Seperti telah dikemukakan yang berbeda adalah, bahwa semua komponen dalam proposal penelitian kuantitatif sudah merupakan hal yang baku, sedangkan dalam proposal penelitian kualitatif bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti berada dilapangan. Setelah dilapangan mungkin masalah, fokus, teori, teknik, pengumpulan data, analisis data, bahkan judul penelitian bisa berubah.
Komponen dalam proposal penelitian tersebut secara garis besarnya terdiri atas, pendahuluan, landasan teori, metode penelitian, jadwal penelitian, biaya penelitian.

BAB III
PENUTUP

  1.       Kesimpulan
Penelitian kualitatif adalah salah satu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang kenyataan melalui proses berfikir induktif. Dalam penelitian ini, peneliti terlibat dalam situasi dan setting fenomenanya yang diteliti. Peneliti diharapkan selalu memusatkan perhatian pada kenyataan atau kejadian dalam konteks yang diteliti. Setiap kejadian merupakan sesuatu yang unik dan berbeda dengan yang lain karena ada perbedaan konteks

  1.   Saran
Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Kami tetap berharap makalah ini tetap memeberikan manfaat bagi pembaca. Namun, saran dan kritik yang sifatnya membangun dengan tangan terbuka kami terima demi kesempurnaan makalah dimasa yang akan datang.

 DAFTAR PUSTAKA

Uma sekaran, ResearchMethods for bussines, soutern Illinois University at Carbondale, 1984.
Sugiyono, Model Alternatif Sistem dan Manajemen Pendidikan untuk Menyiapkan Tenaga Kerja Industri Permesinan Modern, Laporan Penelitian, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta, 1992

Kamis, 13 Oktober 2016

DAMPAK POSTIF PABRIK KERTAS

       DAMPAK POSITIF PABRIK KERTAS               TERHADAP LINGKUNGAN SEKITAR

      
Latar Belakang

            Sampah merupakan masalah lingkungan maupun sosial yang selama ini kurang mendapat perhatian serius dari masyarakatnya. Sampah tersebar di berbagai tempat. Banyak tempat yang dijadikan oleh masyarakat sebagai pembuangan sampah. Tempat-tempat tersebut seperti sungai, selokan, dan di pesisir laut. Tumpukan sampah yang ada tidak dikelola dengan baik sehingga akan berakibat pada masalah lingkungan seperti polusi udara, polusi air, dan polusi tanah.
            Sampah terdiri atas dua macam yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik seperti sisa makanan, kotoran hewan dan berbagai macam daun sedangkan sampah anorganik seperti besi, plastik, gabus dan kertas. Sampah organik dapat dihancurkan dan dekomposisi di tanah. Namun yang menjadi permasalahan adalah sampah anorganik yang tidak dapat berdekomposisi dengan tanah.
            Kertas merupakan contoh dari sampah anorganik yang tidak dapat terurai dengan sendirinya. Sampah kertas banyak di lingkungan lembaga pendidikan, perkantoran, maupun rumah tangga. Sampah kertas hanya dibiarkan menumpuk tanpa di daur ulang atau hanya dikumpulkan pada pengepul barang bekas. Kemudian hasil yang dikumpulkan di pengepul ini tetap sebagai bahan utuh seperti koran yang digunakan sebagai pembungkus makanan dan bahan pokok di pasar.
            Sampah kertas yang dihasilkan di berbagai tempat ini berakibat pada rusaknya lingkungan alam. Hal ini yang memunculkan ide untuk mengolah sampah kertas lebih lanjut. Selain berdampak pada lingkungan juga akan berdampak pada sosiologi dan pembangunan pada masyarakat




1.         Pendahuluan

            Kertas[1] adalah suatu bahan yang tipis dan rata yang dihasilkan oleh kompresi serat yang berasal dari pulp. Pulp[2] berasal dari serat tumbuhan seperti kayu, bambu, padi, dan tumbuhan lain yang mengandung serat, tetapi pada umumnya yang sering digunakan untuk bahan baku kertas adalah kayu. Penciptaan kertas pada masa lalu merupakan suatu perubahan besar bagi kehidupan, khususnya bagi dunia tulis menulis yang turut mempengaruhi peradaban dunia.
            Seiring dengan berjalannya waktu, kertas tak hanya digunakan untuk menulis saja. Kertas kini telah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan hampir di setiap aktivitas manusia selalu membutuhkan kertas, seperti sebagai pembungkus makanan, tas belanja, tissue, sarana untuk menulis, melukis, mencetak buku, kalender, koran, pamflet, dan lain-lain.
            Dalam jangka panjang, aktivitas-aktivitas tersebut dapat menghasilkan banyak kertas yang tidak terpakai dan akan menumpuk dengan percuma. Sampah kertas kemudian menjadi salah satu penyumbang sampah yang jumlahnya cukup banyak. Bahkan saat ini, jumlah sampah kertas dan produk turunannya meliputi 25% dari seluruh sampah yang ada di pembuangan sampah.[3] Padahal kertas merupakan jenis sampah anorganik yang tidak bisa dihancurkan oleh organisme dan mengandung bahan-bahan kimia sebagai campurannya, seperti sulfat dan chlorin.
            Sebagian orang mungkin hanya akan membuang begitu saja kertas yang tidak ia gunakan lagi, dan sebagian orang lainnya menjual kertas-kertas bekasnya pada pengepul barang bekas. Oleh para pengepul kertas-kertas tersebut memang ada yang  dijual lagi untuk didaur ulang pabrik kertas dan menjadi kertas baru, atau ada juga daur ulang kertas untuk kerajinan tangan, namun sebagian lainnya, seperti kertas koran bekas misalnya, mereka jual lagi pada pedagang sebagai pembungkus barang dagangannya, yang pada akhirnya juga dibuang percuma dan menjadi sampah lagi.
            Lagipula kertas-kertas bekas tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan bila digunakan sebagai pembungkus makanan, selain karena kertas itu sendiri sudah tidak hiegenis, juga yang mengandung banyak tinta seperti kertas koran, ternyata mengandung timbal yang berbahaya jika masuk ke tubuh manusia.  
            Bagi seorang pelajar ataupun mahasiswa, kertas juga telah menjadi kebutuhan pokok yang sulit tergantikan. Mahasiswa pasti banyak membutuhkan kertas untuk kegiatan tulis menulis, mencatat, juga mengerjakan tugas kuliah yang tidak sedikit membutuhkan kertas. Namun akhirnya kertas-kertas itu banyak yang terbuang percuma karena sudah tidak terpakai lagi, padahal masih bisa dimanfaatkan jika kita kreatif dalam mengolahnya.
            Dari permasalahan yang telah diuraikan di atas, kemudian muncul sebuah ide untuk bisa mendaur ulang sendiri kertas-kertas itu menjadi produk yang lebih berguna, yang diharapkan dapat mengurangi sampah sehingga dapat mewujudkan lingkungan yang lebih baik. Apalagi sebagai mahasiswa yang banyak menghasilkan sampah kertas, untuk mendapatkan kertas-kertas bekas sangatlah mudah. Selain itu penerapan ide untuk mendaur ulang kertas ini merupakan realisasi dari sedikit keterampilan yang kami dapat dari sekolah dulu, yang kami rasa bisa berguna tidak hanya bagi kami saja, tapi juga bagi lingkungan sosial pada umumnya, yaitu dengan membantu mengurangi sampah kertas.  

     

2.           Dampak

Dampak yang ditimbulkan akibat sampah kertas:
            Sampah yang berupa kertas memiliki berbagai dampak di lingkungan yang berakibat pada permasalahan sosial di masyarakat. Beberapa dampak negatif akibat penumpukan sampah seperti gangguan kesehatan,  menurunnya kualitas lingkungan, menurunnya estetika lingkungan dan menghambat pada pembangunan negara. Dampak yang ditimbulkan inilah yang mendorong agar manusia lebih memperhatikan keadaan lingkungan sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan.
Dampak adanya penumpukan sampah kertas diantaranya adalah:
1.      Gangguan Kesehatan.
Tumpukan sampah yang banyak menandakan banyaknya limbah yang tersebar. Limbah ini akan berdampak pada kesehatan manusia seperti penyakit menular yang berasal dari tikus yang akan menyebarkan infeksi.
2.      Menurunnya kualitas lingkungan.
Tanah yang pada awalnya meiliki kesuburan yang tinggi menjadi tidak subur lagi jika tumpukan sampah dibiarkan berserakan di tanah yang subur.
3.      Menurunnya estetika lingkungan.
Timbulan sampah yang bau, kotor dan berserakan akan menjadikan lingkungan tidak indah untuk dipandang mata. Keindahan menjadi penting dan berdampak pada masyarakat seperti nilai keindahan yang dimiliki oleh masyarakat terhadap sesuatu akan berkurang.
4.      Terhambatnya pembangunan negara
Dengan menurunnya kualitas dan estetika lingkungan, mengakibatkan pengunjung atau wisatawan enggan untuk mengunjungi daerah wisata tersebut karena merasa tidak nyaman, dan daerah wisata tersebut menjadi tidak menarik untuk dikunjungi. Akibatnya jumlah kunjungan wisatawan menurun, yang berarti devisa negara juga menurun.[4]
Dampak yang ditimbulkan akibat pengelolaan sampah kertas:
1.      Dampak lingkungan
Sampah merupakan salah satu masalah bagi masyarakat pada umumnya. Dampak negatif yang ditimbulkan akibat penumpukan sampah menjadi maslah yang serius pada lingkungan. Sampah kertas sulit terurai dalam tanah sehingga pengelolaan sampah menjadi penting. Sampah yang menumpuk diakibatkan oleh produksi yang menggunakan kertas. Lingkungan lembaga pendidikan merupakan lembaga yang dekat dengan “kertas”. Mulai dari kertas HVS sampai koran maupun karton. Jika sampah-sampah ini dapat dikelola kembali maka lingkungan hidup menjadi lebih baik. Tanah yang subur akan tetap subur jika tidak ada lagi sampah kertas yang membebaninya. Ekosistem pada lingkungan akan terjaga dengan baik. Nilai keindahan juga akan meningkat jika sampah tidak lagi bertebaran di sembarang tempat. Usaha foto copy merupakan industri yang dekat dengan sampah kertas. Dengan adanya usaha pengelolaan kertas menjadi barang yang lebih berguna seperti vas bunga maupun gucci akan berdampak baik bagi lingkungan.
2.      Dampak Ekonomi
Pengelolaan sampah kertas menjadi benda yang lebih berguna seperti vas bunga dan gucci akan memiliki nilai ekonomi. Barang-barang hasil pengelolaan sampah kertas ini dapat didistribusikan serta dipasarkan kepada masyarakat. Sampah kertas yang dianggap tidak memiliki kegunaan lagi jika dikelola dengan baik akan berdampak ekonomi bagi masyarakat luas.
3.      Dampak sosial
Pengelolaan sampah kertas dapat dilakukan secara bersama dengan masyarakat sekitar. Melalui kerjasama yang dibangun akan membentuk hubungan masyarakat yang baik pula. Usaha foto copy dapat menyalurkan sampah kertasnya pada industri pengelolaan sampah kertas tetapi tidak hanya usaha foto copy saja, seluruh masyarakat dapat menyalurkan sampah kertasnya pula. Setelah sampah terkumpul maka industri pengelolaan akan melakukan tahap berikutnya yaitu merubah sampah kertas menjadi kerajinan tangan. Usaha ini dilakukan dengan bantuan masyarakat sehingga ketika semua komponen saling bekerja maka terbentuklah hubungan yang baik dan kerjasama diantara masyarakat itu sendiri. Damapk lain yang ditimbulkan adalah terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat sehingga kesejahteraan masyarakat dapat dicapai.


4.      Dampak Pembangunan
Usaha baru yang dibuka untuk pengelolaan sampah ini akan membuka kesempatan kerja baru di lingkungan masyarakat sekitar. Lapangan kerja baru terbuka bagi masyarakat sekitar. Masyarakat yang pada awalnya tidak memiliki pekerjaan memiliki kesempatan untuk menjadi pekerja di industri pengelolaan sampah kertas. Kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Masyarakat yang awalnya tidak memiliki penghasilan untuk dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar menjadi seseorang yang memiliki penghasilan untuk menghidupi dirinya maupun orang yang berada di sekitarnya. Jumlah pengangguran akan berkurang terlihat dari terserapnya tenaga kerja yang terampil dan siap untuk dipekerjakan di industri pengelolaan sampah kertas.





3.         Pembuatan Kerajinan dari Kertas Bekas
Bahan :
- Kertas bekas (koran, kertas sisa fotocopy, kertas bekas lainnya)
- Lem kayu
- Air
- Cutter
- Benda yang dijadikan cetakan (dijadikan contoh pola), seperti gentong,   vas bunga, patungm dan sebagainya.
- Wadah tempat lem kayu
Cara Pembuatan:
1. Kertas bekas yang ingin digunakan dipotong (disobek) menjadi ukuran sedang ataupun kecil. (Sesuai dengan selera).
2. Lem kayu diletakkan dalam wadah, kemudian diberi air, dan diaduk hingga menyatu. Hal ini diperuntukkan agar menghemat lem, kemudian agar lebih menempel pada kertas bekas.
3. Siapkan benda yang ingin dijadikan cetakan, (seperti gentong, vas bunga, patung, dst.) .
4. Kemudian kertas yang sudah disobek (dipotong menjadi ukuran sedang atau kecil) di celupkan ke dalam wadah larutan lem kayu, pastikan kertas tersebut terkena lem dengan rata, kemudian tempelkan kertas tersebut ke bagian luar dan bagian bawah benda cetakan (seperti gentong, vas bunga, patung, dst.) . Lakukan hal ini berulang-ulang hingga seluruh bagian terlapisi dengan kertas bekas tadi dan membentuk lapisan-lapisan. Dan tunggu hingga kering.
5. Setelah kertas bekas yang dilapisi lem membentuk lapisan yang cukup tebal di bagian luar cetakan dan benar-benar kering, kemudian buat sayatan di salah satu sisi lapisan kertas bekas tersebut. Sayatan itu ditujukan agar cetakan tersebut dapat dikeluarkan dari dalam lapisan kertas bekas tadi. Pastikan agar lapisan kertas yang siap disayat itu memiliki ketebalan yang tidak begitu tipis dan juga tidak begitu tebal.
6. Setelah lapisan kertas bekas tersebut disayat dan cetakan dikeluarkan, satukan kembali bekas sayatan-sayatan pada lapisan kertas yang sudah membentuk seperti cetakan yang diinginkan yaitu dengan merekatkan kembali bagian yang terpisah akibat sayatan. Kemudian lapisi kembali dengan kertas bekas yang telah dicelupkan ke dalam larutan lem.
7. Terus lapisi lapisan kertas dengan menempelkan kertas bekas yang disobek dan dicelupkan ke dalam larutan kayu hingga lapisan kertas bekas hasil cetakan tersebut memiliki ketebalan yang hampir sama dengan benda cetakan aslinya atau setidaknya benda tersebut cukup kokoh.
8. Jika telah mencapai ketebalan yang diinginkan, kemudian biarkan  hingga larutan lem kayu mengering.
9. Setelah kering, kita dapat menghias bagian luarnya agar tampak menarik sesuai dengan kreativitas kita, seperti mengecatnya dan menghiasnya sesuai dengan apa yang kita inginkan.


4.         Kesimpulan
            Sampah merupakan suatu bahan yang dibuang atau terbuang sebagai hasil dari aktivitas manusia maupun hasil aktivitas alam. Secara garis besar, sampah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan anorganik. Yang menjadi masalah adalah sampah anorganik yang tidak dapat berdekomposisi dengan tanah seperti contohnya kertas.
            Kertas merupakan bahan yang sering digunakan sehari-hari yang sering dijumpai di lembaga pendidikan, perkantoran maupun rumah tangga. Karena sering digunakan setiap harinya, banyak juga kertas-kertas yang tidak terpakai lagi. Kertas-kertas ini akan menumpuk dan menjadi sampah.

            Kalau mendengar hal ini pasti yang terpikirkan adalah dampak negatifnya. Memang banyak sekali dampak negatif dari sampah kertas ini baik dari gangguan kesehatan, rusaknya lingkungan sosial sampai menghambat pembangunan negara. Tetapi kalau sampah kertas ini dapat diolah dengan sebaik-baiknya, akan meminimalisir dampak negatif dari sampah kertas tersebut. Tidak hanya itu, sampah kertas ini jika diolah dapat mempunyai dampak positif.

Salah satu cara untuk mengolah sampah kertas sehingga mendapatkan dampak positif tersebut adalah dengan cara membuat kerajinan tangan yang cantik yaitu  membuat vas bunga, gucci, patung dan lain sebagainya. Dengan bahan yang mudah ditemukan dan murah dan dengan cara pengolahan yang mudah dapat memberikan dampak positif pada kertas sampah tersebut, yaitu dalam lingkungan hidup akan terjaga lebih baik lagi, meningkatnya ekonomi karena sampah kertas yang berupa vas bunga, patung dan gucci ini juga dapat diperjual-belikan, meningkatnya hubungan sosial masyarakat yang baik karena dalam mengolah sampah kertas ini membutuhkan kerjasama orang banyak, pembangunan negara juga akan terlihat semakin meningkat karena pengangguran semakin sedikit. Ini disebabkan industri pengolahan sampah kertas membuka lapangan pekerjaan agar hasil dari sampah kertas tersebut semakin optimal. Dan para pengangguran yang akhirnya mendapat pekerjaan ini akan mendapatkan gaji. Sehingga kesejahteraan masyarakat akan tercapai.